Terkadang orang banyak yang terobsesi menjadi artis , tapi bingung harus mulai darimana ?
Dan banyak orang yang kebingungan dengan kemampuan akting mereka sudah maksimal atau belum ? Oke Junco , gue punya tips nya buat kalian , semoga bermanfaat ! ;) Lucky For ours ;)
Dan banyak orang yang kebingungan dengan kemampuan akting mereka sudah maksimal atau belum ? Oke Junco , gue punya tips nya buat kalian , semoga bermanfaat ! ;) Lucky For ours ;)
X. UNSUR INSTRINSIK
DRAMA’S/THEATER’S/FILM/SCRIP’S
a. Tema
Tema cerita adalah pokok pikiran dalam sebuah karangan. Atau, dapat diartikan pula sebagai dasar cerita yang ingin disampaikan oleh penulisnya (Lutters, 2006:41).
Tema drama harus disesuaikan dengan penonton. Jika drama ditujukan kepada pelajar, maka tema ceritanya juga harus sarat dengan pendidikan. Jangan sampai tema yang disajikan justru menjerumuskan pelajar sebagai penonton pada hal-hal yang tidak edukatif.
b. Alur Cerita (Plot)
Plot atau alur adalah pola dasar dari kejadian-kejadian yang membangun aksi yang penting dalam sebuah drama. Plot drama harus dibangun mulai dari awal, lalu terdapat kemajuan-kemajuan, dan penyelesaian masalah yang diberikan kepada penonton. Plot menjelaskan bagaimana sebuah kejadian memengaruhi kejadian yang lain dan mengapa orang-orang yang ada di dalamnya berlaku seperti itu (Suban, 2009: 79).
Somad dkk. ( 2008:149) menjabarkan alur menjadi beberapa bagian berikut.
1. Eksposisi/ introduksi merupakan pergerakan terhadap konflik melalui dialog-dialog pelaku.
2. Intrik merupakan persentuhan konflik atau keadaan mulai tegang.
3. Klimaks merupakan pergumulan konflik atau ketegangan yang telah mencapai puncaknya dalam cerita.
4. Antiklimaks merupakan konflik mulai menurun atau masalah dapat diselesaikan.
5. Konklusi merupakan akhir peristiwa atau penentuan terhadap nasib pelaku utama.
c. Latar Cerita (Setting)
Lutters (2006: 56) menjelaskan bahwa setting cerita adalah lokasi tempat cerita ini ingin ditempatkan atau diwadahi. Setting dibagi menjadi dua, yaitu media/ tempat dan budaya.
d. Penokohan
Penokohan/ karakter pelaku utama adalah pelukisan karakter/ kepribadian pelaku utama. Lutters ( 2006: 81) membagi tokoh/ peran menurut sifatnya dalam tiga hal berikut.
1. Peran Protagonis
Peran protagonis adalah peran yang harus mewakili hal-hal positif dalam kebutuhan cerita. Peran ini biasanya cenderung menjadi tokoh yang disakiti, baik, dan menderita sehingga akan menimbulkan simpati bagi penontonnya. Peran protagonis ini biasanya menjadi tokoh sentral, yaitu tokoh yang menentukan gerak adegan.
2. Peran Antagonis
Peran antagonis adalah kebalikan dari peran protagonis. Peran ini adalah peran yang harus mewakili hal-hal negatif dalam kebutuhan cerita. Peran ini biasanya cenderung menjadi tokoh yang menyakiti tokoh protagonis. Dia adalah tokoh yang jahat sehingga akan menimbulkan rasa benci atau antipasti penonton.
3. Peran Tritagonis
Peran tritagonis adalah peran pendamping, baik untuk peran protagonis maupun antagonis. Peran ini bisa menjadi pendukung atau penentang tokoh sentral, tetapi juga bisa menjadi penengah atau perantara tokoh sentral. Posisinya menjadi pembela tokoh yang didampinginya. Peran ini termasuk peran pembantu utama.
Suban (2009:68) membagi karakter menjadi tiga bagian menurut kedudukannya dalam cerita.
Tema cerita adalah pokok pikiran dalam sebuah karangan. Atau, dapat diartikan pula sebagai dasar cerita yang ingin disampaikan oleh penulisnya (Lutters, 2006:41).
Tema drama harus disesuaikan dengan penonton. Jika drama ditujukan kepada pelajar, maka tema ceritanya juga harus sarat dengan pendidikan. Jangan sampai tema yang disajikan justru menjerumuskan pelajar sebagai penonton pada hal-hal yang tidak edukatif.
b. Alur Cerita (Plot)
Plot atau alur adalah pola dasar dari kejadian-kejadian yang membangun aksi yang penting dalam sebuah drama. Plot drama harus dibangun mulai dari awal, lalu terdapat kemajuan-kemajuan, dan penyelesaian masalah yang diberikan kepada penonton. Plot menjelaskan bagaimana sebuah kejadian memengaruhi kejadian yang lain dan mengapa orang-orang yang ada di dalamnya berlaku seperti itu (Suban, 2009: 79).
Somad dkk. ( 2008:149) menjabarkan alur menjadi beberapa bagian berikut.
1. Eksposisi/ introduksi merupakan pergerakan terhadap konflik melalui dialog-dialog pelaku.
2. Intrik merupakan persentuhan konflik atau keadaan mulai tegang.
3. Klimaks merupakan pergumulan konflik atau ketegangan yang telah mencapai puncaknya dalam cerita.
4. Antiklimaks merupakan konflik mulai menurun atau masalah dapat diselesaikan.
5. Konklusi merupakan akhir peristiwa atau penentuan terhadap nasib pelaku utama.
c. Latar Cerita (Setting)
Lutters (2006: 56) menjelaskan bahwa setting cerita adalah lokasi tempat cerita ini ingin ditempatkan atau diwadahi. Setting dibagi menjadi dua, yaitu media/ tempat dan budaya.
d. Penokohan
Penokohan/ karakter pelaku utama adalah pelukisan karakter/ kepribadian pelaku utama. Lutters ( 2006: 81) membagi tokoh/ peran menurut sifatnya dalam tiga hal berikut.
1. Peran Protagonis
Peran protagonis adalah peran yang harus mewakili hal-hal positif dalam kebutuhan cerita. Peran ini biasanya cenderung menjadi tokoh yang disakiti, baik, dan menderita sehingga akan menimbulkan simpati bagi penontonnya. Peran protagonis ini biasanya menjadi tokoh sentral, yaitu tokoh yang menentukan gerak adegan.
2. Peran Antagonis
Peran antagonis adalah kebalikan dari peran protagonis. Peran ini adalah peran yang harus mewakili hal-hal negatif dalam kebutuhan cerita. Peran ini biasanya cenderung menjadi tokoh yang menyakiti tokoh protagonis. Dia adalah tokoh yang jahat sehingga akan menimbulkan rasa benci atau antipasti penonton.
3. Peran Tritagonis
Peran tritagonis adalah peran pendamping, baik untuk peran protagonis maupun antagonis. Peran ini bisa menjadi pendukung atau penentang tokoh sentral, tetapi juga bisa menjadi penengah atau perantara tokoh sentral. Posisinya menjadi pembela tokoh yang didampinginya. Peran ini termasuk peran pembantu utama.
Suban (2009:68) membagi karakter menjadi tiga bagian menurut kedudukannya dalam cerita.
1. Karakter Utama (Main Character)
Karakter utama adalah karakter yang mengambil perhatian terbanyak dari pemirsa dan menjadi pusat perhatian pemirsa.. Karakter ini juga paling banyak aksinya dalam cerita.
2. Karakter Pendukung (Secondary Character)
Karakter pendukung adalah orang-orang yang menciptakan situasi dan yang memancing konflik untuk karakter utama. Kadang-kangan karakter pendukung bisa memainkan peranan yang membantu karakter utama. Misalnya sebagai orang keparcayaan karakter utama. Contohnya, sebagai sopir atau bodyguard.
3. Karakter Figuran (Incedental Character)
Karakter ini duperlukan untuk mengisi dan melengkapi sebuah cerita. Mereka serin disebut figuran, karena yang dibutuhkan figuran saja. Mereka sering tampil tanpa dialog. Kalaupun ada, dialognya hanya bersifat informatif. Biasanya mereka digunakan dalam adegan-adegan kolosal dan keramaian. Atau jika tidak kolosal, biasanya mereka memegang profesi di dalam pelayanan umum, misalnya sopir taksi, pembantu, atau petugas di pom bensin.
e. Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penulis cerita kepada penonton atau penikmat drama. Jika drama ditujukan kepada pelajar, maka seiring dengan temanya, drama harus memberikan amanat yang bersifat edukatif. Selain itu, cerita dalam drama harus dapat menambah pengetahuan yang positif bagi siswa.
Karakter utama adalah karakter yang mengambil perhatian terbanyak dari pemirsa dan menjadi pusat perhatian pemirsa.. Karakter ini juga paling banyak aksinya dalam cerita.
2. Karakter Pendukung (Secondary Character)
Karakter pendukung adalah orang-orang yang menciptakan situasi dan yang memancing konflik untuk karakter utama. Kadang-kangan karakter pendukung bisa memainkan peranan yang membantu karakter utama. Misalnya sebagai orang keparcayaan karakter utama. Contohnya, sebagai sopir atau bodyguard.
3. Karakter Figuran (Incedental Character)
Karakter ini duperlukan untuk mengisi dan melengkapi sebuah cerita. Mereka serin disebut figuran, karena yang dibutuhkan figuran saja. Mereka sering tampil tanpa dialog. Kalaupun ada, dialognya hanya bersifat informatif. Biasanya mereka digunakan dalam adegan-adegan kolosal dan keramaian. Atau jika tidak kolosal, biasanya mereka memegang profesi di dalam pelayanan umum, misalnya sopir taksi, pembantu, atau petugas di pom bensin.
e. Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penulis cerita kepada penonton atau penikmat drama. Jika drama ditujukan kepada pelajar, maka seiring dengan temanya, drama harus memberikan amanat yang bersifat edukatif. Selain itu, cerita dalam drama harus dapat menambah pengetahuan yang positif bagi siswa.
XX. AKTING
a.
Pengertian Akting
Akting adalah segala kegiatan, gerak, atau perbuatan yang dilakukan oleh para pelaku. Akting meliputi mimik, pantomim, dialog, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan adegan aktor atau pemain drama.
Akting adalah segala kegiatan, gerak, atau perbuatan yang dilakukan oleh para pelaku. Akting meliputi mimik, pantomim, dialog, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan adegan aktor atau pemain drama.
b.
Tujuan Akting
Tujuan akting adalah “to be a character”, yaitu mengekspresikan suatu perwatakan yang khas dari seorang tokoh.
c. Teknik Akting
Teknik akting terbaik ialah yang paling efektif dan yang berhasil mengekspresikan intent (maksud/ ide) penulis, intent adegan, dan intent karakter. Untuk dapat berakting dengan baik, ada 10 teknik yang perlu diperhatikan :
Tujuan akting adalah “to be a character”, yaitu mengekspresikan suatu perwatakan yang khas dari seorang tokoh.
c. Teknik Akting
Teknik akting terbaik ialah yang paling efektif dan yang berhasil mengekspresikan intent (maksud/ ide) penulis, intent adegan, dan intent karakter. Untuk dapat berakting dengan baik, ada 10 teknik yang perlu diperhatikan :
-
Metode tindak lahir
Aktor
harus mengetahui lebih dulu motivnya berakting (dasar dan tujuan).
- Kemampuan mengandaikan
Bila seseorang menjadi tokoh tertentu, maka ia harus memikirkan apa dan bagaimana yang harus ia lakukan ?
- Kemampuan imajinasi
Menggambarkan / membayangkan sesuatu yang tidak ada.
- Konsentrasi
Seorang aktor harus memusatkan perhatian dan pikirannya pada peran yang ia bawakan.
- Emosional memori
Seorang aktor hendaknya mengingat-ingat atau mengenang kembali pengalaman atau kejadian-kejadian yang pernah dialami sendiri yang kira-kira serupa dengan adegan yang dimainkannya.
- Kesatuan
Antar aktor yang satu dengan yang lain harus ada kerjasama yang bersifat kolektif.
- Harmoni
Setiap aktor harus berusaha menyesuaikan dirinya dengan peran/ perwatakan yang dibawakan (menghayati/ menjiwai setiap elemen yang berkaitan dengannya).
- Tempo irama
Tiap akting harus ada iramanya. Artinya, akting tidak boleh tergesa-gesa juga tidak boleh dilambat-lambatkan.
- Super objektif
Tiap aktor harus tahu siapa yang sedang memegang peranan penting dalam suatu adegan yang sedang berlangsung.
- Kebenaran dan keyakinan
Setiap aktor harus yakin akan peran yang dibawakan.
- Kemampuan mengandaikan
Bila seseorang menjadi tokoh tertentu, maka ia harus memikirkan apa dan bagaimana yang harus ia lakukan ?
- Kemampuan imajinasi
Menggambarkan / membayangkan sesuatu yang tidak ada.
- Konsentrasi
Seorang aktor harus memusatkan perhatian dan pikirannya pada peran yang ia bawakan.
- Emosional memori
Seorang aktor hendaknya mengingat-ingat atau mengenang kembali pengalaman atau kejadian-kejadian yang pernah dialami sendiri yang kira-kira serupa dengan adegan yang dimainkannya.
- Kesatuan
Antar aktor yang satu dengan yang lain harus ada kerjasama yang bersifat kolektif.
- Harmoni
Setiap aktor harus berusaha menyesuaikan dirinya dengan peran/ perwatakan yang dibawakan (menghayati/ menjiwai setiap elemen yang berkaitan dengannya).
- Tempo irama
Tiap akting harus ada iramanya. Artinya, akting tidak boleh tergesa-gesa juga tidak boleh dilambat-lambatkan.
- Super objektif
Tiap aktor harus tahu siapa yang sedang memegang peranan penting dalam suatu adegan yang sedang berlangsung.
- Kebenaran dan keyakinan
Setiap aktor harus yakin akan peran yang dibawakan.
PEMBAGIAN :
OVERACTING
Akting yang dinilai berlebihan dan tidak memiliki kualitas estetis. Contoh: Faye Dunaway dalam film Mommie Dearest (Frank Perry, 1981).
ACTION
1. Perintah sutradara terhadap aktor agar mulai berakting.
2. Komponen utama film-film laga (action), seringkali berupa adegan kekerasan.
OVERACTING
Akting yang dinilai berlebihan dan tidak memiliki kualitas estetis. Contoh: Faye Dunaway dalam film Mommie Dearest (Frank Perry, 1981).
ACTION
1. Perintah sutradara terhadap aktor agar mulai berakting.
2. Komponen utama film-film laga (action), seringkali berupa adegan kekerasan.
ACTION
CUTTING
Teknik editing dengan pemotongan dan penyambungan satu shot dengan shot lainnya yang berbeda angle, untuk memberi kesan bahwa syuting dilakukan dengan teknik multi-kamera. Teknik editing ini dilakukan pada syuting dengan satu kamera, yang pengambilan gambarnya dilakukan berulang-ulang dengan angle berbeda.
Teknik editing dengan pemotongan dan penyambungan satu shot dengan shot lainnya yang berbeda angle, untuk memberi kesan bahwa syuting dilakukan dengan teknik multi-kamera. Teknik editing ini dilakukan pada syuting dengan satu kamera, yang pengambilan gambarnya dilakukan berulang-ulang dengan angle berbeda.
ACTION
STILL
Sebuah still-frame yang dimunculkan terus-menerus sepanjang waktu tertentu, biasanya pada akhir adegan atau akhir cerita. Still-frame ini bisa dipergunakan sebagai latar belakang credit title akhir
Sebuah still-frame yang dimunculkan terus-menerus sepanjang waktu tertentu, biasanya pada akhir adegan atau akhir cerita. Still-frame ini bisa dipergunakan sebagai latar belakang credit title akhir
XX.1. AKTING YANG BAIK DALAM TEATER, DRAMA,FILM,FTV,SINEDRAMA/TRON
Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa
gerak.
Dialog yang baik ialah dialog yang :
Dialog yang baik ialah dialog yang :
- terdengar (volume baik)
- jelas (artikulasi baik)
- dimengerti (lafal benar)
- menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
a. Pengertian Dialog
Dialog adalah percakapan antar pemain dalam drama.
b. Fungsi Dialog
- Dialog menampakkan karakter dan memerkaya plot.
- Dialog menciptakan konflik.
- Dialog menghubungkan fakta-fakta.
- Dialog menyamarkan kejadian-kejadian yang akan datang.
- Dialog menghubungkan adegan-adegan dan gambar-gambar sekaligus.
Dialog adalah percakapan antar pemain dalam drama.
b. Fungsi Dialog
- Dialog menampakkan karakter dan memerkaya plot.
- Dialog menciptakan konflik.
- Dialog menghubungkan fakta-fakta.
- Dialog menyamarkan kejadian-kejadian yang akan datang.
- Dialog menghubungkan adegan-adegan dan gambar-gambar sekaligus.
Gerak yang
baik ialah gerak yang :
- terlihat (blocking baik)
- jelas (tidak ragu‑ragu, meyakinkan)
- dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
- menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
- Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh
- Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi kata‑kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih.
- Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti “tidak takut” harus diucapkan berani bukan ber‑ani.
- Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah
- Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu dengan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain yang ditutupi.
Pemain lebih baik terlihat sebagian besar bagian depan
tubuh daripada terlihat sebagian besar belakang tubuh. Hal ini dapat diatur
dengan patokan sebagai berikut :
- Kalau berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada didepan.
- Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada didepan.
Harus diatur pula balance para pemain di panggung. Jangan
sampai seluruh pemain mengelompok di satu tempat. Dalam hal mengatur balance,
komposisinya:
- Bagian kanan lebih berat daripada kiri
- Bagian depan lebih berat daripada belakang
- Yang lebar lebih berat daripada yang sempit
- Yang terang lebih berat daripada yang gelap
- Menghadap lebih berat daripada yang membelakangi
Komposisi diatur tidak hanya bertujuan untuk enak dilihat
tetapi juga untuk mewarnai sesuai adegan yang berlangsung
- Jelas, tidak ragu‑ragu, meyakinkan, mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilakukan jangan setengah‑setengah bahkan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu‑ragu terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting
- Dimengerti, berarti apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak menyimpang dari hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang yang berat dengan tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb.
- Menghayati berarti gerak‑gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai tuntutan peran dalam naskah, termasuk pula bentuk dan usia.
Untuk mencapai pengembangan konflik yg
dibangun, tentunya seorang pemain drama, haruslah melakukan proses latihan
rutin, memahami seni peran itu sendiri, hukum-hukum drama, masalah pemain dan
sejarah drama, komposisi pentas, istilah akting (motivasi, over-akting,
gesture, ekspresi, dll)
Jika seorang aktor mampu membawakan pemeranannya secara detil, itulah yg dinamakan penguasa teknik. Demikian ujar Usmar Ismail. Kemampuan dan keberhasilan inilah yg dicita-citakan setiap aktor sebagai harapan diatas panggung. Namun, akan mendapat'balasan' atau 'pukulan' jika kebalikannya.
Dalam buku 'the first Six Lesson' Richard Bolelavski menulis ada enam unsur seorang mampu berperan di atas panggung, yakni :
1.Konsentrasi
Adanya penguasaan diri akan pemusatan kekuatan rohani, pikiran dan emosi
2.Ingatan Emosi
Proses mengulang segala peristiwa masa lalu, kejadian yg terlewat. Pengalaman pribadi itu dihadirkan untuk menunjang ransangan daya cipta.
3.Pembangunan Watak
Pembinaan emosi menuju klimaks untuk mengungkapkan susasana dramatis
4.Laku Dramatik
Diharapkan aktor dapat menumpahkan segenap kemampuannya.
5.Observasi atau pengamatan
Dapat dikatakan bhwa yg ada disekeliling kehidupan ini adalah suatu objek yg perlu diamati.
6.Irama
Adanya keteraturan yg dapat diukur oleh perubahan segala macam unsur yg terkandung dalam seni peran. Perubahan-perubahan itu dapat memberikan ransangan estetik.
Akhirnya dapat disimpulkan, bahwa dramaturgi sangat penting sebagai upaya mematangkan wawasan, inteletualitas, dan mematangkan emosi sebagai bekal di atas panggung.
Jika seorang aktor mampu membawakan pemeranannya secara detil, itulah yg dinamakan penguasa teknik. Demikian ujar Usmar Ismail. Kemampuan dan keberhasilan inilah yg dicita-citakan setiap aktor sebagai harapan diatas panggung. Namun, akan mendapat'balasan' atau 'pukulan' jika kebalikannya.
Dalam buku 'the first Six Lesson' Richard Bolelavski menulis ada enam unsur seorang mampu berperan di atas panggung, yakni :
1.Konsentrasi
Adanya penguasaan diri akan pemusatan kekuatan rohani, pikiran dan emosi
2.Ingatan Emosi
Proses mengulang segala peristiwa masa lalu, kejadian yg terlewat. Pengalaman pribadi itu dihadirkan untuk menunjang ransangan daya cipta.
3.Pembangunan Watak
Pembinaan emosi menuju klimaks untuk mengungkapkan susasana dramatis
4.Laku Dramatik
Diharapkan aktor dapat menumpahkan segenap kemampuannya.
5.Observasi atau pengamatan
Dapat dikatakan bhwa yg ada disekeliling kehidupan ini adalah suatu objek yg perlu diamati.
6.Irama
Adanya keteraturan yg dapat diukur oleh perubahan segala macam unsur yg terkandung dalam seni peran. Perubahan-perubahan itu dapat memberikan ransangan estetik.
Akhirnya dapat disimpulkan, bahwa dramaturgi sangat penting sebagai upaya mematangkan wawasan, inteletualitas, dan mematangkan emosi sebagai bekal di atas panggung.
1. Pelajaran Pertama : Konsentrasi
Konsentrasi bertujuan mengarahkan agar seorang aktor dapat dengan
luwes mengubah dirinya menjadi orang lain, yaitu peran yang dibawakannya. Untuk
mampu berkonsentrasi, seorang aktor harus berlatih memusatkan diri, mulai dari
lingkaran yang besar, menyempit, kemudian membesar lagi. Meskipun latihan
dilakukan di tempat-tempat ramai oleh suara hiruk-pikuk orang atau kendaraan,
tetapi jika konsentrasi dilakukan dengan semangat kuat maka lakon akan tetap
berjalan. Latihan konsentrasi ini juga dapat dilaksanakan melalui latihan fisik
(misalnya yoga), latihan intelektualitas atau kebudayaan (misalnya menghayati
musik, puisi, seni lukis), dan latihan sukma (melatih kepekaan sukma menanggapi
segala macam situasi).
2. Pelajaran Kedua: Ingatan Emosi
The transfer of emotion adalah cara efektif untuk menghayati
suasana emosi suatu peran secara hidup, wajar dan nyata. Jika pelaku harus
bersedih, dengan suatu kadar kesedihan tertentu dan menghadirkan emosi yang
serupa, maka kadar kesedihan itu takarannya pas, tidak berlebihan, sehingga
tidak terjadi over acting.
3. Pelajaran Ketiga: Laku Dramatis
Berlaku dramatis berarti bertingkah laku dan berbicara bukan
sebagai dirinya sendiri, tetapi berdasarkan apa / siapa yang diperankan. Untuk
itu diperlukan penghayatan kuat terhadap tokoh yang diperankan secara mendalam,
sehingga dapat diadakan adaptasi.
4. Pelajaran Keempat: Pembangunan Watak
Aktor harus mampu membangun wataknya sesuai dengan tuntutan peran.
Pembangunan watak tersebut didahului dengan menelaah struktur fisik, kemudian
mengidentifikasikannya, dan selanjutnya menghidupkan watak tersebut seperti
halnya wataknya sendiri.
5. Pelajaran Kelima: Observasi
Observasi terhadap tokoh yang sama dengan peran yang dibawakan.
Untuk memerankan tokoh pengemis dengan baik, perlu mengadakan observasi
terhadap seorang atau beberapa pengemis dengan ciri fisik, psikis, dan sosial
yang sesuai. Latihan observasi ini dapat pula dilakukan dengan cara mengerjakan
sesuatu yang pernah dilihat dengan pura-pura. Misalnya: adegan mengetuk pintu
(padahal pintu tidak ada / pura-pura).
6.
Pelajaran Keenam: IramaSentuhan
Terakhir dalam suatu latihan drama adalah pengaturan irama permainan. Irama permainan ini, untuk setiap aktor, diwujudkan dalam panjang pendek, keras lemah, tinggi rendahnya dialog, serta variasi gerakan, yang harus dihubungkan dengan timing, penonjolan bagaian, pemberian isi, progresi dan pemberian variasi pentas.
Terakhir dalam suatu latihan drama adalah pengaturan irama permainan. Irama permainan ini, untuk setiap aktor, diwujudkan dalam panjang pendek, keras lemah, tinggi rendahnya dialog, serta variasi gerakan, yang harus dihubungkan dengan timing, penonjolan bagaian, pemberian isi, progresi dan pemberian variasi pentas.
XXX. BLOCKING
Blocking adalah
kedudukan tubuh pada saat di atas pentas.
Yang dimaksud dengan blocking yang baik adalah blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.
a. Seimbang
Seimbang berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.
b. Utuh
Utuh berarti blocking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.
c. Bervariasi
Bervariasi artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah.
d. Memiliki titik pusat
Memiliki titik pusat artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan mengaburkan di mana sebenarnya letak titik perhatian.
e. Wajar
Wajar artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Disamping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.
Yang dimaksud dengan blocking yang baik adalah blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.
a. Seimbang
Seimbang berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.
b. Utuh
Utuh berarti blocking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.
c. Bervariasi
Bervariasi artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah.
d. Memiliki titik pusat
Memiliki titik pusat artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan mengaburkan di mana sebenarnya letak titik perhatian.
e. Wajar
Wajar artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Disamping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.
XXXX. INTI POKOK PEMAHAMAN AKTING
Gestur adalah
gerak-gerak besar yang dilakukan aktor selama berakting secara sadar.
Maksudnya ialah gerak yang terjadi setelah mendapat perintah dari diri/ otak kita untuk melakukan sesuatu, misalnya menulis, mengambil gelas, jongkok, dan sebagainya.
Misalnya, peran direktur dengan tukang becak. Direktur sering duduk tegap dan berbicara formal serta berjabat tangan bila bertemu kliennya. Sedangkan tukang becak lebih terlihat sering berjalan santai dengan bahasa yang informal. Ketika menemui pelanggannya, biasanya tukang becak tidak pernah berjabat tangan.
Movement adalah gerak perpindahan dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerak ini tidak hanya terbatas pada berjalan saja, tetapi dapat juga berupa berlari, bergulung-gulung, melompat, dan sebagainya.
Guide adalah cara jalan. Cara berjalan di sini bisa bermacam-macam. Cara berjalan orang tua akan berbeda dengan cara berjalan seorang anak, berbeda pula dengan cara berjalan orang yang sedang mabuk.
Setiap yang pemain lakukan harus memunyai arti, motif, dan dasar. Hal ini harus benar-benar diperhatikan dan diyakini benar-benar oleh seorang pemain mengenai maksud dan makna gerakan yang dilakukannya.
Maksudnya ialah gerak yang terjadi setelah mendapat perintah dari diri/ otak kita untuk melakukan sesuatu, misalnya menulis, mengambil gelas, jongkok, dan sebagainya.
Misalnya, peran direktur dengan tukang becak. Direktur sering duduk tegap dan berbicara formal serta berjabat tangan bila bertemu kliennya. Sedangkan tukang becak lebih terlihat sering berjalan santai dengan bahasa yang informal. Ketika menemui pelanggannya, biasanya tukang becak tidak pernah berjabat tangan.
Movement adalah gerak perpindahan dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerak ini tidak hanya terbatas pada berjalan saja, tetapi dapat juga berupa berlari, bergulung-gulung, melompat, dan sebagainya.
Guide adalah cara jalan. Cara berjalan di sini bisa bermacam-macam. Cara berjalan orang tua akan berbeda dengan cara berjalan seorang anak, berbeda pula dengan cara berjalan orang yang sedang mabuk.
Setiap yang pemain lakukan harus memunyai arti, motif, dan dasar. Hal ini harus benar-benar diperhatikan dan diyakini benar-benar oleh seorang pemain mengenai maksud dan makna gerakan yang dilakukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar